
Pengembangan budidaya ikan adalah upaya peningkatan produksi perikanan secara berkelanjutan dengan memanfaatkan ilmu dan teknologi terkini, mulai dari pembenihan, pembesaran, pengolahan pakan, hingga pemasaran, demi meningkatkan ekonomi masyarakat dan menjaga kelestarian lingkungan, seringkali melibatkan revitalisasi tambak tradisional ke modern (seperti bioflok), diversifikasi produk olahan (nugget, abon), serta peningkatan manajemen dan teknologi untuk mengatasi kendala seperti biaya pakan tinggi atau penyakit. Pengembangan ini didanai Dana Desa melalui BUMDesa sebagai prioritas penggunaan Dana Desa dalam mendukung program Ketahanan Pangan Nasional.
Manfaat Utama untuk Ketahanan Pangan:
- Peningkatan Produksi:
- Memungkinkan kepadatan tebar ikan lebih tinggi, yang berarti hasil panen lebih banyak dari lahan sempit (bahkan pekarangan rumah).
- Meningkatkan produktivitas perikanan secara nasional, memenuhi permintaan pasar yang tinggi.
- Efisiensi Sumber Daya & Adaptasi Iklim:
- Hemat air: Tidak perlu sering mengganti air, cocok untuk daerah kering atau kemarau.
- Hemat pakan: Limbah ikan diolah menjadi pakan alami oleh mikroorganisme (bioflok), mengurangi biaya pakan.
- Solusi Adaptif: Mampu beradaptasi dengan perubahan iklim dan ketidakpastian hasil pertanian.
- Peningkatan Gizi dan Ekonomi:
- Menyediakan sumber protein hewani berkualitas tinggi yang lebih mudah diakses dan terjangkau oleh masyarakat.
- Menciptakan peluang usaha baru dan diversifikasi pendapatan, meningkatkan kesejahteraan pembudidaya.
- Lingkungan dan Keberlanjutan:
- Mengurangi dampak pencemaran air karena limbah diurai menjadi nutrisi.
- Air bekas budidaya dapat digunakan untuk menyuburkan tanaman (sistem akuaponik/irigasi), mendukung ketahanan pangan ganda.
Dengan manfaat ini, sistem bioflok menjadikan ikan nila sebagai komoditas penting dalam menjaga ketersediaan pangan lokal dan nasional, sekaligus membangun ketahanan ekonomi masyarakat perdesaan.

